in

Wiranto, Ninoy dan Radikalis yang Mulai Putus Asa

Baru saja kabar mengejutkan terjadi, Menko Polhukam Wiranto diserang oleh dua orang, satu laki-laki dan satunya lagi perempuan, di Pandeglang, Banten. Kabar ini tentu menambah ketegangan menjelang pelantikan presiden. Kewaspadaan harus ditingkatkan.

Penyerangan terhadap Wiranto bukan peristiwa tunggal. Jika melihat ciri-ciri fisik penyerangnya, besar kemungkinan berasal dari kelompok radikalis. Orang-orang yang telah tercuci otaknya dengan doktrin menyimpang. Mereka yang menganggap kelompoknya ahli surga.
Sementara mereka yang ada di luar kelompoknya adalah musuh yang halal darahnya.

Orang-orang ini tumbuh bersama kita. Hidup di bumi yang sama. Mengais rejeki dan buang kotoran di Indonesia. Namun mereka memiliki ideologi berbeda. Oleh sebab itu, mereka berani berbuat melampaui batas penalaran. Sinting.

Lelaki tua yang ringkih itu ditusuk dua kali. Tubuhnya terhuyung dan jatuh ke belakang. Darahnya berceceran di sepanjang perjalanan ke RSUD terdekat.
Namun sejatinya, Wiranto bukan target tunggal. Semua komponen dalam pemerintahan Jokowi adalah target. Termasuk aparat keamanan dan para pendukungnya.

Kasus Wiranto, tak jauh beda dengan yang dialami Ninoy Karundeng. Ia diserang oleh kelompok yang tak jauh berbeda dengan penyerang Wiranto. Karakter dan ekosistemnya sama. Bedanya mungkin, penyerang Wiranto memiliki kadar kebencian yang jauh lebih pekat.

Ninoy adalah pendukung Jokowi, ia dari wilayah luar bernama Indonesia. Seorang musuh yang datang untuk membongkar kedok ambulans dan paramedis yang mereka gunakan untuk mendukung demonstrasi. Ninoy masuk ke wilayah mereka, yang mungkin masih Indonesia, tapi dalam keyakinan yang berbeda. Indonesia yang bau-bau syariah. Indonesia kecil yang menolak pemerintahan yang sah.

Maka sangat wajar ketika dewan kemakmuran Masjid Alfalah itu membela penganiaya dan menyatakan, tidak ada penculikan di sana. Itu karena orang-orang ini berada dalam wilayah otonom. Menurut versi mereka. Satu wilayah yang terisolir dari pemahaman nasionalisme.
Kemudian, orang-orang keji seperti yang digambarkan oleh DKM Majid Al-falah itu berusaha mengelabui orang banyak. Dengan lugasnya ia berbohong ketika diwawancarai wartawan. Padahal video penganiayaan itu telah beredar luas.

Masuk akal?

Orang-orang di masjid Alfalah yang mengeroyok Ninoy, termasuk DKM yang berusaha membelokkan opini itu, adalah sekelompok orang yang memiliki garis ideologi berbeda. Mereka memisahkan diri antara kelompok pemerintah dan kelompok mereka. Termasuk di sini, aparat dan pendukung Jokowi.

Saya memang tidak setuju dengan perlakukan diskriminasi terhadap kelompok eksklusif, hanya berdasarkan dari tampilan luar mereka. Misalnya mereka yang bercadar atau berjidat hitam dan bercelana cingkrang. Ada banyak faksi dalam kelompok ini. Satu hal yang menyatukan: mereka eksklusif.

Tetapi melihat adanya fakta penyerangan terhadap Wiranto dan Ninoy Karundeng, orang-orang dengan ciri-ciri ini harus diwaspadai. Pengamanan terhadap orang penting mesti ditingkatkan jika kedapatan ada orang-orang semacam ini mendekat.

Aparat juga mesti mengawasi kelompok pengajian dan mendeteksi bahan yang diberikan kepada jamaahnya. Jika memang berisi kebencian dan provokasi, jebloskan pimpinannya ke dalam penjara. Aparat tidak boleh lembek, apalagi takut.

Dari segi hukum, mestinya segera dibentuk peraturan pelarangan penggunaan atribut teroris di ruang publik. Sekolah-sekolah islam eksklusif harus diawasi dengan ketat. Jika melanggar, tutup. Kemenag dan Kemendikbud jangan jadi kambing congek. Jangan takut dengan kelompok eksklusif ini.

Kecurigaan seperti ini penting, mengingat pelaku teror hampir semuanya memiliki ciri yang sama. Kalau laki-laki jidatnya dapat dipastikan hitam, celananya cingkrang. Perempuannya bercadar dan biasanya korban poligamer. Mereka ini sel tidur. Meskipun memang, tak semua yang berciri demikian sudah pasti teroris.

Tapi bayangkan, dalam kondisi genting, orang-orang ini tentu akan sangat mudah direkrut dan membela kelompoknya. Orang-orang ini dengan mudah meludahi Pancasila. Mementingkan ukhuwah kelompok mereka daripada nasionalisme.

Mudah dipahami, kenapa orang-orang ini berubah kalap. Karena rencana mereka untuk menumpang pada Prabowo pada pemilu kemarin gagal. Maka di tengah keterputus-asaan itu mereka melakukan kamikaze. Menyerang lawan dengan mengorbankan nyawa mereka.

Siapapun yang ada di pihak pemerintah dimusuhi, difitnah dan diserang. Tidak hanya Jokowi, menteri dan aparat, bahkan pendukungnya pun dianiaya dan diancam mau dikapak kepalanya, sebagaimana yang dialami Ninoy Karundeng.

Dan kejinya, mereka melakukan itu di dalam masjid. Entah agama apa yang diyakini mereka, karena Islam tidak mengajarkan demikian. (*)

By @Kajitow Elkayeni

Bagaimana menurut kamu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kader PMII Meninggal Tertembak Saat Demo, PMII Kecam Pihak Keamanan

Menjelang Peringatan Hari Santri Nasional 2019 KH Said Aqiel Siradj Kunjungi PWNU Jatim dan Ini Pesannya