Vaksinasi Virus Korona Perlu Diikuti dengan Vaksinasi Radikalisme

oleh -2,198 views
Vaksinasi Virus Korona Perlu Diikuti dengan Vaksinasi Radikalisme
Gambar: Ilustrasi

SantriNow – Hari ini dimulai vaksinasi untuk melawan virus covid-19. Jokowi akan maju sebagai pihak yang pertama kali divaksin. Tentu hal ini adalah langkah baik menuju Indonesia yang bebas korona. Namun jangan dilupakan, perlu vaksinasi lain agar Indonesia lebih kebal lagi dari “virus” lain, yakni radikalisme.

Di Indonesia selama tahun 2020 terjadi penangkapan 228 tersangka terorisme oleh Densus 88. Densus juga membongkar satu dari 12 pusat latihan teroris kelompok jaringan Jamaah Islamiyah di Jawa Tengah. Kelompok ini telah merekrut generasi muda sejak tahun 2011 sampai tahun 2018 dengan total 96 orang anggota dari 7 angkatan. Hal yang cukup nggegirisi, mereka memilih santri atau pelajar cerdas ranking 1-10 untuk menjadi sasaran ajaran radikalnya.

Secara simpel, ajaran radikal dijelaskan dalam buku saya “Kontranarasi Melawan Kaum Khilafers: Bacaan Praktis Bagi Gen Y dan Gen Z  (2020)”. Kriteria kelompok radikal di Indonesia adalah mereka adalah pihak yang anti-NKRI termasuk kelompok separatis, anti-Pancasila, dan aliran agama yang gampang memberi stigma kafir pada liyan.

Sasaran empuk kelompok radikal adalah generasi Y dan Z. Alasannya, rasa curiosity yang tinggi, juga secara kuantitas relatif banyak. Dengan demikian, mereka berpeluang besar  “terinfeksi” gagasan radikalisme.

Dengan alasan ini, wajar di situs arabnews.com (Februari 2020) diulas berita berjudul Indonesia targets virus of religious radicalization. Isinya penjelasan Mahfud MD bahwa pemerintah khawatir jika para kombatan dipulangkan, mereka bisa menjadi virus baru yang berbahaya bagi Indonesia. Kombatan yang hendak pulang ke NKRI bisa membawa virus radikalisme saat mereka berbaur dengan generasi muda.

Sebenarnya potensi menginfeksi tidak hanya via darat saja, saat ini kelompok radikal berekspansi di medsos dengan berbagai strategi canggih. Situs nytimes.com pada November 2018 memuat opini berjudul The New Radicalization of the Internet. Intinya, media sosial memainkan peran kunci dalam kebangkitan ekstremisme sayap kanan di Amerika Serikat.Tentu hal ini juga terjadi di belahan negara lain. Pada Mei 2018, Kemkominfo mengungkap 143 juta pengguna media sosial berpotensi terkena virus radikalisme dan terorisme.

Karena media sosial sudah menjadi dunianya gen Y dan gen Z, maka cara terbaik untuk menyelamatkannya bukan dengan menghindarkan atau melarang mereka mengakses informasi dari kelompok radikal. Pencegahan seperti ini  adalah muskil karena seluruh informasi termasuk radikalisme pasti hinggap ke bilik privat gen Y dan gen Z karena faktor gawai yang mereka pegang.

Melarang mereka memegang gawai juga pelik. Apalagi saat pagebluk yang mengharuskan para pelajar (juga sebagian besar santri) untuk belajar secara daring. Problematisnya, disinyalir saat pandemi ini potensial dimanfaatkan kelompok radikal.

No More Posts Available.

No more pages to load.