in

Ujian Jokowi dari Kerusuhan Papua Hingga Demo Akbar Mahsiswa, Ini Ada Rahasia Apa?

Jokowi didemo oleh Mahasiswa dari berbagai daerah. Mereka menuntut agar UU KPK dan RKUHP dibatalkan. Sudah berhari-berhari puluhan ribuan Mahasiswa mengepung Kantor Dewan Perwakilan Rakyat di Senayan.

Memang dalam 2 bulan terakhir ini banyak kejadian di luar dugaan mulai dari Rusuh Papua di bulan Agus tus, Hutan Kebakaran di Kalimantan awal September, demo Mahasiswa di hampir seluruh Kampus Negeri di Indonesia di pertengahan Sepetember, semua ini sudah terjadi.

Kerusuhan Rakyat Papua dan Papua Barat berawal dari Hoax di Surabaya dan Malang. Kemudian Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan yang berakibat hampir satu juta jiwa terkena penyakit ISPA. Sementara demo besar-besaran oleh oleh Mahasiswa dari berbagai kampus di tanah air berawal dari diesahkannya UU KPK dan RKUHP.

Mungkin ada yang bertanya, mengapa semua ini terjadi di luar prediksi? Sebagaimana salah satu tulisan yang mengatakan bahwa selama ini tak ada pengamat yang mampu menjelaskan fenomena politik pasca Pilpres. Pun tak ada prediksi arah politik yang jelas. Semua memudar seiring munculnya isu krusial, berbahaya, dan mengkhawatirkan. Entah kenapa, tak ada yang mampu mengurainya.

Secara kasat mata, tidak ada hubungan antara kasus rasisme terhadap mahasiswa Papua di Surabaya sampai menimbulkan kekacauan dengan isu revisi UU KPK yang juga menimbulkan kegaduhan serta dengan maraknya pembakaran hutan di beberapa daerah. Peristiwa itu beruntun bertalu-talu dengan daya gebuk yang luar biasa.

Kasus Papua hampir saja mengakibatkan perang saudara. Apabila tidak ditangani dengan profesional, bukan tidak mungkin akan berujung lepasnya Papua dari Indonesia. Atau setidaknya menumpahkan darah sesama anak bangsa.

Menariknya, walau penyelesaian di Papua berakhir dengan cepat, tidak menimbulkan korban lebih banyak, serta tidak sampai menimbulkan diintegrasi bangsa, kesalahan tetap ditimpakan kepada Jokowi.

Pada akhirnya, Jokowi harus tetap menjadi sasaran tembak. Seolah, pemerintah pusatlah yang paling bertanggung jawab atas karhutla sementara pemdanya lepas begitu saja. Mereka teriak Jokowi di mana, mereka memaki Jokowi. Tetapi pada saat yang sama mereka tidak teriak kepada pemdanya, tidak memaki gubernurnya. Pokoknya, semua salah Jokowi, habis perkara.

Memang seluruh pemerintahan adalah tanggung jawab presiden. Tetapi bukan berarti semua harus ditangani oleh presiden. Lah kalau semua harus ditangani presiden, untuk apa ada gubernur, untuk apa ada otonomi daerah, untuk apa pemda digaji rakyat? Mengenai ini proporsionallah mengkritik.

Kasus Papua sudah ditangani meskipun masih menyisakan tugas yang tidak ringan kepada Polri dan TNI. Isu revisi UU KPK sudah dalam pembahasan. Bencana karhutla pun sudah langsung ditangani presiden. Intinya semua diselesaikan secara proporsional dan profesional.

Perlu diketahui juga bahwa jauh hari sebelum undangan unjuk rasa ini beredar, beredar video rencana menggagalkan Jokowi dilantik jadi presiden yang diprovokatori Sri Bintang. Katanya jangan sampai Jokowi dilantik jadi presiden. Video lainnya adalah video orasi salah satu kader Gerindra dalam suatu aksi dengan seruan yang sama mau menggagalkan pelantikan Jokowi pada Oktober nanti.

Alasannya apa? Persis seperti yang ada dalam ajakan unjuk rasa di atas dan tiga isu yang saya bahas. Hanya saja ada penambahan tentang residu pemilu, BPJS, dan revisi UU ketenagakerjaan, serta RUU apa tidak jelas. Nah kalau nanti mereka demo, lalu rusuh, langsung tangkap saja. Tidak ada ceritanya rakyat menolak presiden terpilih dilantik hanya karena subjektivitas dan kebencian semata!

Dari pembahasan di atas, ada dua kemungkinan agendanya yaitu menggagalkan Jokowi dilantik atau menimbulkan kekacauan. Keduanya memiliki kepentingan dan agenda yang sama yaitu ingin berkuasa tetapi dengan tujuan yang berbeda. Tetapi saya yakin, meskipun tetap harus waspada, Jokowi dan jajarannya sudah mencium agenda pihak-pihak tersebut. Keyakinan itu muncul ketika Jokowi mampu mengambil langkah yang tidak gegabah dan juga tidak mudah terbaca tetapi tetap dalam jalur yang aman.

Jokowi diserang melalui kasus Papua, provokatornya terhempas sedemikian menyedihkannya. Jokowi diserang memalui KPK, malah kebusukan KPK malah muncul ke permukaan. Jokowi diserang melali karhutla, justru terbongkar gubernur dan jajarannya tidak becus menangani karhutla. Jadi masih dalam jalur aman yang wajar.

Jangan macam-macam, rating Tempo di PlayStore sudah mencapai 1.1 dari sebelumnya 4.1 dengan jumlah pemberi rating 11 ribuan lebih. Itu tidak sekedar rating menurun, melainkan tanda bahwa masih banyak orang yang mencintai Jokowi karena dia melihat langkah Jokowi masih pada jalur aman yang wajar.

Karena tujuan dari cerita Nabi Adam dan Nabi Musa di atas itu supaya manusia tidak putus asa dalam mencari jalan keluar dan mencari ridha Allah. Sebab manusia sering kali tidak tahu tentang apa yang terjadi di hari besok dan lusa, apakah itu kebahagiaan atau malah mala petaka. Karena itulah soerang manusia juga dituntut untuk memilih atau berusaha sebaik-baiknya, adapun setelah itu seorang hamba disuruh pasrah kepada Allah.

Kembali kepada judul di atas, sebagai seorang presiden sudah seharusnya bersabar dan mencoba menerima semua kejadian pahit yang bertubi-tubi ini. Semoga setelah ujian demi ujian ini kelar, ada manfaat yang dapat diambil. Semangat Pak Jokowi (*)

Penulis: Musthofa

Bagaimana menurut kamu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

300 Lebih Warga Papua Menyesal Melakukan Aksi Demo Anarkis dan Sepakat Berdamai

Hari Ini Rancangan Undang-Undang Pesantren Disehakan