in

Titik Temu Penting Pengajian Gus Yahya Tsaquf dan Gus Muwafiq di Pesantren Tambak Beras

Foto bersama dengan Gus Muwafiq dan Gus Tsaquf serta keluarga besar Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang

Jombang – Gus Yahya Tsaquf menyimpulkan bahwa Kiai Wahab Chasbullah Tambakberas adalah wali peradaban.

Alasannya, karena Kiai Wahab mampu membaca wolak waliking jaman, jeli meraba masa depan atau istilahnya sekarang adalah futurolog, bahkan Kiai Wahab mampu memberi solusi dengan mencetuskan sesuatu yang bid’ah, yakni organisasi ulama yang bernama NU.

NU adalah wadah tepat untuk menghadapi dan mengatasi problema masa depan, wabil khusus problema keagamaan kontemporer. Buktinya banyak tokoh dan pakar dari Barat dan Timur Tengah yang mengapresiasi pemikiran dan kiprah NU dalam membangun peradaban yang rahmah dan melakukan resolusi konflik.

Selanjutnya Gus Muwafiq menjelaskan bahwa umat Islam sekarang ini adalah pengikut para ulama dan kiai, karena yang bisa ditemui untuk “berkonsultasi” adalah ulama atau kiai. Berbeda dengan sahabat yang merupakan umat atau pengikut yang bisa bertemu Kanjeng Nabi langsung.

Baca juga: Penjelasan Nadirsyah Hosen Mengenai Khalifah yang Gay

Tentu karena manusia sekarang adalah umatnya kiai dan ulama, kualitasnya ya lebih beragam mulai dari tukang dadu, atau yang sholatnya jarang dan lain lain perilaku dan profesi.

Umat yang demikian, tentu perlu “treatment” tertentu. Mereka tetap diterima dan didoakan oleh kiai, bukan malah dimarahi. Karena jiwa kiai itu “nyegoro”.

Dengan kondisi demikan, agamapun diajarkan dengan membaca situasi kondisi aktual. Ada mekanisme atau sistem spiritual dalam menyerap nilai agama di kalangan kiai. Semisal karena sesuatu hal, maka pada zaman Walisongo umat Islam tidak dipaksakan untuk naik haji.

Di sini terjadi apa yang saya (penulis) sebut dengan proses transformasi dan adaptasi atau proses “ruwatan” beragama dalam NU. Maka apabila ajaran agama diamalkan warga NU, yang muncul adalah wajah damai, aman, dan harmoni dengan semesta. Semisal, masalah hijrah, atau pakaian jubah dan sorban, bahkan jenggot dan sejenisnya, apabila yang mengenakan adalah orang NU, maka akan “jinak” dan damai. Lain hal bila yang mengenakan adalah pihak yang merasa paling syar’i dan paling benar.

Kata Gus Muwafiq, selanjutnya orang NU akan akrab dengan ajaran agama. Berbeda dengan pihak yang selalu takut dalam beragama. Mereka takut ziarah kubur, takut dengan tahlillan, takut dengan tradisi. Beragama menjadi menakutkan bagi dirinya dan bagi orang lain.

Penulis: Ainur Rofiq al-Amin

Bagaimana menurut kamu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Hari Ini Gus Abid Bukan Lagi Tim Karteker GP Ansor Jatim dan Siap Ngukur Baju

Syafiq Syauqi Tuban Terpilih Menjadi Ketu PW GP Ansor Jatim 2019