News

Tim Aiman Menemukan Kesaksian Baru Terkait Kerusuhan 22 Mei yang Menewaskan 9 Korban

...

Jakarta - Ada temuan baru terkait 9 korban tewas pada kerusuhan 21-22 Mei di depan gedung kantor Bawaslu dan kawasan Petamburan Jakarta pusat. Tim Aiman Witjaksono mencoba mencari informasi dari masyarakat sekitar tempat kejadian.

Ada fakta menarik yang diungkapkan saksi lapangan yang tidak mau direkam menggunakan kamera. Dimana pada saat terjadi kerusuhan di Petamburan, 2 saksi mata tersebut bersaksi bahwa warga di sekitar Asrama Brimob dan warga di sekitar Petamburan hampir semua pintu rumahnya digedor oleh orang-orang tak dikenal. Sambil menggedor pintu, orang-orang itu berteriak, “Ayo keluar, kita diserang, … perang… perang…!”

Sementara dari pihak warga di kompleks Brimob Polri, yang juga menolak untuk saya wawancara menggunakan kamera, menyatakan, “Kami menggunakan peluru hampa dan karet. Tidak ada peluru tajam yang kami gunakan untuk menghalau massa agar jangan brutal membakar dan melempari mobil!”

Sebagaimana diketahui, malam itu korban tewas berjatuhan. Bahkan ada sebuah sumber yang menduga bahwa korban dieksekusi di sebuah tempat, kemudian jasadnya digiring ke titik kerusuhan sekitar Petamburan-Slipi, Jakarta. Tiga korban masih berstatus anak, yang paling muda adalah Harun Rasyid (15 tahun), dan Reyhan Fajari (16 tahun).

Sekedar diketahui, 9 korban tewas pada malam kerusuhan 21-22 Mei itu, 8 orang di antaranya tewas akibat peluru tajam, sementara 1 orang akibat benda tumpul. 8 orang yang tewas akibat peluru tajam, 4 orang sudah diotopsi.

Semakin kuat dugaan bahwa kerusuhan sudah terencana secara matang dengan tujuan provokasi, mengingat komplek Brimob dan markas Front Pembela Islam (FPI) bersebrangan. Artinya kawasan ini memang strategis untuk memprovokasi massa di sekitar markas FPI. Ada aksi bakar mobil di Markas Brimob; ada 9 korban tewas; ada seruan perang!

Menurut Ketua Tim Investigasi Kerusuhan 98 Hermawan Sulistyo yang akrab dengan panggilan Kiki, ketika diberi tahu temuan-temuan baru di lapangan dan meminta tanggapannya oleh Tim Aiman, ia mengatakan, dugaan bahwa korban dieksekusi di sebuah tempat kemudian digiring ke lokasi kerusuhan adalah sangat mungkin. Karena, menurutnya, dari hasil otopsi yang didapat, mayoritas korban tewas ditembak dari posisi tiarap (dan dari arah samping). “Lha… bagaimana mungkin kalau tiarap ada di lokasi kerusuhan. Posisi nembak tiarap kan perlu space kosong. Kalau di lokasi kerusuhan ada ribuan orang, bisa keinjak-injak,” ujar Kiki. Yang pasti, apa pun hasil penyelidikan nanti, harus diungkap secara transparan oleh polisi.   

Setidaknya ada tiga poin yang perlu dicermati dari perkembangan ini.

Pertama, lokasi kerusuhan. Kedua, korban anak yang tewas. Ketiga, operasi dan provokasi di “medan kerusuhan”.  (Now/Pas)