Santri Wajib Waspada dengan Narkoba Jenis Ganja dalam Bentuk Cookies Bukan Coki Pardede

oleh -516 views
Gambar: Ilustrasi

Sosialisasi secara persuasif lewat iklan juga sudah gencar dilakukan pemerintah. Tapi pada kenyataannya peredaran narkoba semakin hari semakin memprihatinkan. Misalnya data BNN menyebut jumlah pengguna narkoba pada 2016 sebanyak 0,02% dari total penduduk Indonesia. Setahun kemudian, jumlahnya meningkat menjadi sekitar 1,77% atau 3,3 juta. Karena itu sangat beralasan bila separuh jumlah napi yang mendekam di penjara merupakan pelaku narkoba. Mengerikan bukan?

Mengapa kita gagal dalam menghalau kejahatan narkoba? Satu hal yang utama adalah karena kita tak pernah maksimal dalam melakukan penegakan hukum narkoba. Bayangkan, para bandar yang berada di penjara masih mampu mengendalikan bisnisnya. Masih banyak terpidana mati narkoba yang belum dieksekusi, padahal putusan atas mereka sudah memiliki kekuatan hukum tetap. Banyak para pelaku narkoba hanya diberi hukuman rehabilitasi ataupun kalau dihukum juga rendah vonisnya. Ini adalah contoh-contoh bahwa kita masih setengah hati dalam memberantas para penjahat narkoba.

Santri bersama masyarakat dan seluruh aparat negara sadar betul bahwa bahaya narkoba ini sudah sangat mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai ilustrasi begitu dahsyatnya dampak negatif narkoba, ada 11.071 orang per tahun atau 30 orang per hari meninggal karena narkoba. Jumlah kerugian ekonomi maupun sosial juga sangat besar. Contohnya pada 2017 mencapai Rp84,7 triliun.

Oleh karena itu, sudah seharusnya status darurat narkoba jangan hanya dijadikan jargon belaka. Perlu langkah konkret yang komprehensif dan total agar ada efek takut orang bermain narkoba. Bila perlu contoh Singapura dan Malaysia dalam menindak tegas pelaku narkoba, kita tak usah malu. Karena ketika kita membuka celah walaupun sedikit bagi pelaku narkoba, nasib bangsa ini adalah taruhannya. (*)