Ulasan

Penjelasan Nadirsyah Hosen Mengenai Khalifah yang Gay

...

Australia - Ini bermula dari cuitan seorang pendukung HTI yang mengkritik sistem sekuler berdasarkan HAM (hak asasi manusia) yang membuka lebar pintu kemaksiatan. Dicontohkan soal LGBT.

Saya merasa ini double standard. Kalau ada sisi negatif dari sistem lainnya (demokrasi, sekuler, dan lainnya), maka pendukung HTI langsung menyalahkan sistemnya. Tapi kalau ada sisi negatif dari sistem Khilafah, yang disalahkan orangnya. Ini gak fair. Kalau mau disalahkan ya salahkan semua sistemnya, atau salahkan semua pelakunya. Jangan tebang pilih.

Dalam konteks itulah saya sodorkan data bahwa di jaman khilafah dulu juga ada beberapa Khalifah yang gay. Maka hebohlah dunia medsos.

Saya menyodorkan data itu bukan untuk melegitimasi LGBT. Tidak ada kata-kata itu dari cuitan saya. Saya hanya mengajak mereka berpikir bahwa jangan semua hal negatif disematkan pada sistem demokrasi, lantas Khilafah digambarkan baik-baik saja semuanya. Kita fair saja lah.

Mengenai referensi. Sebenarnya ini sudah saya bahas di buku saya Islam Yes, Khilafah No (dua jilid). Tapi baiklah saya cantumkan juga referensi dari kitab Tarikh al-Khulafa karya Imam Suyuthi.

Dia cinta dengan budaknya dari Mesir yang bernama Muhaj. Syair cinta yang beliau tulis tentang Muhaj juga bukan syair biasa, apalagi sampai seorang Khalifah bikin syair untuk budak lelakinya. Amboiiii

Imam Thabari juga mendeskripsikan bagaimana Khalifah al-Amin ini punya hubungan“spesial” dengan Kasim pelayan istana. Kasim favoritnya bernama Kaustar. Kita tahu bahwa dalam berbagai monarki terdapat lelaki yang dikebiri dan kemudian bebas masuk keluar istana termasuk ke kamar raja dan permaisuri untuk melayani kebutuhan keluarga kerajaan. Di masa Abbasiyah, kasim ini juga menjadi bagian dari pelayan istana.

Hubungan“spesial” antara Khalifah al-Amin dan pelayannya (yang diketahui bernama Kaustar) terekam dalam catatan sejarah Imam Thabari dan Imam Suyuthi.

Ini teks dari Tarikh al-Khulafa Imam Suyuthi:

â€ژظ‚ط§ظ„ ط§ط¨ظ† ط¬ط±ظٹط±: ظ„ظ…ط§ ظ…ظ„ظƒ ط§ظ„ط£ظ…ظٹظ† ط§ط¨طھط§ط¹ ط§ظ„ط®طµظٹط§ظ†طŒ ظˆط؛ط§ظ„ظ‰ ط¨ظ‡ظ…طŒ ظˆطµظٹط±ظ‡ظ… ظ„ط®ظ„ظˆطھظ‡طŒ ظˆط±ظپط¶ ط§ظ„ظ†ط³ط§ط، ظˆط§ظ„ط¬ظˆط§ط±ظٹطŒ

Al-Amin tidak menyukai perempuan dan budak wanita, malah asyik berkhalwat dengan pelayan(kasim)nya.

Bahkan ketika wajah Kautsar berdarah, sang Khalifah langsung mengusapnya dan malantukan syair, menyebut Kautsar sebagai“qurrata â€کayni”. Alamakkkk

â€ژظ‚ط§ظ„ ط§ظ„طµظˆظ„ظٹ: ط­ط¯ط«ظ†ط§ ط£ط¨ظˆ ط§ظ„ط¹ظٹظ†ط§ط،طŒ ط­ط¯ط«ظ†ط§ ظ…ط­ظ…ط¯ ط¨ظ† ط¹ظ…ط±ظˆ ط§ظ„ط±ظˆظ…ظٹطŒ ظ‚ط§ظ„: ط®ط±ط¬ ظƒظˆط«ط± ط®ط§ط¯ظ… ط§ظ„ط£ظ…ظٹظ† ظ„ظٹط±ظ‰ ط§ظ„ط­ط±ط¨طŒ ظپط£طµط§ط¨طھظ‡ ط±ط¬ظ…ط© ظپظٹ ظˆط¬ظ‡ظ‡طŒ ظپط¬ط¹ظ„ ط§ظ„ط£ظ…ظٹظ† ظٹظ…ط³ط­ ط§ظ„ط¯ظ… ط¹ظ† ظˆط¬ظ‡ظ‡ ط«ظ… ظ‚ط§ظ„:

â€ژط¶ط±ط¨ظˆط§ ظ‚ط±ط© ط¹ظٹظ†ظٹ … ظˆظ…ظ† ط£ط¬ظ„ظٹ ط¶ط±ط¨ظˆظ‡

â€ژط£ط®ط° ط§ظ„ظ„ظ‡ ظ„ظ‚ظ„ط¨ظٹ … ظ…ظ† ط£ظ†ط§ط³ ط£ط­ط±ظ‚ظˆظ‡

Imam Suyuthi meriwayatkan dari Dzahabi bahwa al-Walid II itu minum khamr dan melakukan liwath. Gawatttt

â€ژظˆظ‚ط§ظ„ ط§ظ„ط°ظ‡ط¨ظٹ: ظ„ظ… ظٹطµط­ ط¹ظ† ط§ظ„ظˆظ„ظٹط¯ ظƒظپط± ظˆظ„ط§ ط²ظ†ط¯ظ‚ط©طŒ ط¨ظ„ ط§ط´طھظ‡ط± ط¨ط§ظ„ط®ظ…ط± ظˆط§ظ„طھظ„ظˆط·طŒ ظپط®ط±ط¬ظˆط§ ط¹ظ„ظٹظ‡ ظ„ط°ظ„ظƒ

Jelas yah rujukannya semua. Ini bukan fitnah atau hoax. Bukan juga mau melegitimasi LGBT. Sekadar menyodorkan data.

Ada yg komen bahwa ketiga khalifah itu dieksekusi karena perilaku gay mereka. Ini KELIRU. Ketiganya wafat bukan karena dieksekusi akibat orientasi seksual mereka. Al-Amin perang saudara dg adiknya Ma’mun rebutan tahta. Pasukan Ma’mun memenggal kepala al-Amin. Al-Walid terbunuh oleh pemberontakan sepupunya sendiri Yazid. Bukan karena dieksekusi akibat gay. Bagaimana dengan al-Watsiq? Beliau wafat karena sakit, bukan karena dieksekusi.

Tabik,

Nadirsyah Hosen