Pencipta Syair Salawat Badar Dapat Penghargaan Bergengsi dari Gubernur Jatim

oleh -259 views
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memberikan penghargaan kepada KH Ali Manshur Shiddiq sebagai pencipta syair salawat badar yang diterima oleh ahli waris Saiful Ali Manshur.

Haul ke 51, pencipta Syair Salawat Badar Alm. KH Ali Manshur Shiddiq dapat penghargaan dan dihadiri secara virtual oleh Guber Jatim, Khofifah Indar Parawansa, Jumat (3/9/2001).

Pada kesempatan itu, orang nomor satu di Jawa Timur ini menganugerahkan penghargaan berupa piagam dan lencana Tanda Kehormatan Jer Basuki Mawa Beya Emas kepada KH Ali Manshur Shiddiq sebagai pencipta syair salawat badar yang diwakili oleh ahli waris Saiful Ali Manshur.

Acara haul ini sendiri diselenggarakan secara Hybrid dari makam KH Ali Manshur Shiddiq di Desa Maibit Rangel Tuban.

Dalam sambutannya, Khofifah mengatakan, bahwa, penghargaan tersebut dianugerahkan sebagai bentuk pengakuan dan kehadiran negara di ranah kebudayaan dan perjuangan keagamaan-kebangsaan.

“Kami sampaikan terima kasih atas perkenan kehadiran keluarga besar dari almarhum KH Ali Manshur, Gus Saiful Islam Ali Manshur untuk menerima apresiasi penghargaan Jer Basuki Mawa Beya Emas yang merupakan tanda kehormatan tertinggi dari Pemprov Jatim,” ungkapnya.

Menurut Khofifah, salawat badar ini diciptakan oleh KH Ali Manshur Shiddiq pada tahun 1962 pasca dekrit 1959 dan jelang meletusnya Gestapu di tahun 1965. Dimana pada tahun tersebut situasi politik di Indonesia sedang tidak menentu.

Tak hanya itu, di tahun 1998 di saat Indonesia mengalami krisis moneter yang cukup dalam, media elektronik termasuk televisi dan radio-radio mengumandangkan Salawat Badar. Begitu juga dengan para pekerja di perkantoran sudah secara reflek mengumandangkan Salawat Badar.

“Pada saat negara ini mengalami krisis moneter yang sangat dalam tahun 98-99, rasanya peneduh dan penenang dari suasana yang secara ekonomis kita mengalami krisis yang sangat dalam, adalah lantunan dari Salawat Badar,” urainya.

Salawat badar sendiri merupakan salawat penyemangat bagi kader NU yang berjuang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Harapannya, syair-syair dan doa salawat tersebut dapat mendorong kegigihan perjuangan pada saat itu sembari mengharap syafaat Nabi Muhammad SAW dan berkah dari Allah SWT.

“Melalui salawat badar ini pula, semangat perjuangan para santri dan kaum nahdliyyin dapat dikobarkan, karena selama berjuang melawan pemberontakan waktu itu salawat inilah yang selalu dibaca,” tutur gubernur perempuan pertama di Jatim ini.

Khofifah menambahkan, atas karya masterpiece dan kepeloporan perjuangan KH Ali Manshur Shiddiq itu, KH Abdurrahman Wahid sebagai Ketua Umum PBNU juga memberi penghargaan Bintang NU pada Muktamar ke-29 NU di PP Krapyak Yogyakarta, pada tahun 1989.

Kemudian, juga dikuatkan lagi dengan Penghargaan Bidang Kebudayaan yang diberikan oleh Ketua Umum PBNU Prof Dr KH Said Aqil Siroj dalam Peringatan Harlah ke-92 NU pada 31 Januari 2018 di Jakarta yang diterima putra bungsu almarhum, H Saiful Islam Ali.

“Beliau adalah putra daerah asal Jatim yang punya reputasi internasional melalui Syair Salawat Badar, sehingga penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi dari Pemprov Jatim kepada beliau,” tukasnya.

Untuk itu, lanjut Khofifah selain memberikan penghargaan tanda kehormatan Jer Basuki Mawa Beya Emas, Pemprov Jatim melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim akan segera mengusulkan hasil karya KH Ali Manshur Shiddiq ini sebagai warisan budaya tak benda ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Menurutnya, pegusulan oleh Pemprov Jatim ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI ini sangat beralasan karena KH Ali Manshur Shiddiq ini pernah tinggal di beberapa tempat yang berbeda di Jatim dantaranya Tuban, Banyuwangi dan Mojokerto.

“Ini semata-mata bentuk rasa terima kasih tak terhingga dari pemerintah. Sebab, salawat ini merupakan sesuatu yang bisa menjadi bagian dari penyejuk dan penyiram kedamaian di saat bangsa ini mengalami kegelisahan,” tukasnya.