News

PBNU dan 13 Ormas Islam Siap Kerjasama dengan Kementrian Pertahanan

...
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlataul Ulama KH Said Aqil Siradj bersama perwakilan dari berbagai Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI)

Jakarta – PBNU bersama 13 Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) menyatakan siap untuk bekerjasama dengan Kementri Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia dalam program pembinaan kesadaran membela negara di masyarakat.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdalatul Ulama KH Said Aqil Sirajd menyatakan berkeinginan untuk kerjasama dalam hal bela negara dengan Kementrian Pertahanan.

“Pertama silaturahim, kami saling tukar pendapat dan sharing menghadapi masa depan negara. Yang kedua, bagaimana kami membuat kerja sama dalam rangka bela negara,” ujar Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj, dikutip dari Republika, Senin (05/08/19).

Adapun 14 ormas Islam itu antara lain, Nahdlatul Ulama (NU), Persis, Ittihadiyah, Al Irsyad Al Islamiyah, Matlaul Anwar, Arrobitoh Al Alawiyah, Al Wasliyah, Syarikat Islam Indonesia, Perti, Ikadi, Azzikra, PITI, Dewan Da’wah, serta Himpunan Bina Muallaf.

Said Aqil juga mengatakan, saat ini bela negara dan kegiatan pendidikannya adalah hal yang sangat penting. Sebab tantangan ini sudah nyata-nyata membahayakan NKRI.

“Penguatan nilai-nilai bela negara kepada masyarakat sangat tepat untuk menangkal ancaman idelogi asing, baik dari dalam maupun luar yang bertentangan dan mengancam ideologi Pancasila. Kita harus tegas, yang paling penting kita harus usir ideologi itu, harus kita tolak,” kata Said Aqil.

Baca juga: Taliban ke Jakarta, Pengamat: “Mereka Percaya Indonesia sebagai Mediator Dunia

Sementara Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu juga menyampaikan, ancaman nyata saat ini adalah terorisme dan radikalisme, serta ancaman terhadap pola pikir bangsa. Ancaman pola pikir itu berupa ancaman terhadap ideologi Pancasila yang dapat membahayakan keutuhan NKRI.

Menurut Ryamizard, yang paling tepat dalam menangkal radikalisme dan terorisme adalah pertahanan rakyat semesta yang melalui bela negara. Menurut dia, ancaman itu tak bisa diselesaikan dengan senjata atau secara militer sebab hasilnya hanya satu sampai lima persen.

“Jadi menghancurkan ancaman ini tidak bisa dengan senjata, harus diatasi oleh seluruh rakyat, karena 99 persen keberhasilan dengan melibatkan rakyat. Maka bela negara tepat di sini,” tegasnya. (Str/Lika)