Kolom

Paku Jagad Itu Telah Berpulang

...

Sejak kecil saya mengenal beliau karena sering diajak sowan almarhum Abah (bapak) ke kediaman beliau, Pesantren Al Anwar, Sarang Rembang. Sebagai anak pertama, saya termasuk paling kenyang diantara saudara lain diajak sowan ke kiai-kiai di sekitar garis batas Jateng dan Jatim. Mbah Moen salah satunya.

Agenda sowan biasanya tidak ada yang khusus, sekedar bersilaturahmi dan minta nasihat-nasihat dari para Kiai itu. Selain regular tiap kali ada libur, biasanya Abah ngajak sowan ketika ingin ngaturi (meminta) beliau untuk mengisi pengajian.

Mbah Moen ini merupakan sosok yang sederhana dan bersahaja sejak dahulu. Beliau menghargai setiap orang tanpa membedakan pangkat, status sosial atau keturunan. Bahkan, alm. Abah yang tidak pernah nyantri di Sarang pun diperlakukan seperti santri beliau sendiri. (Abah tidak pernah nyantri/mukim di pesantren karena sejak kecil—usia SMP—sudah yatim-piatu dan harus menghidupi adik-adiknya sebagai anak pertama).

Ketawadlu’an Mbah Moen ini benar-benar dirasakan oleh banyak orang. Kami salah satunya. Bukan keluarga terpandang atau darah biru, keluarga kami termasuk sering disinggahi oleh Mbah Moen di sela-sela beliau mengisi pengajian. Biasanya selain bercerita tentang kondisi Indonesia terkini (beliau sejak muda sudah di parlemen), beliau juga memberikan nasihat tentang perkembangan NU. Apalagi saat itu NU seperti anak tiri di jaman Orde Baru. Beliau juga sering menceritakan kisah-kisah kiai besar di NU seperti Mbah Bisri, Mbah Hasyim, hingga Gus Dur muda. Sayangnya, usiaku masih terlalu kecil saat itu untuk memahami obrolan dewasa itu.

Mbah Moen ini salah satu ulama dan dai yang paling rajin mendatangi haul-haul kiai kampung. Hampir setiap haul tokoh-tokoh kampung yang berjasa dalam penyebaran Islam di bilangan Rembang, Blora, Pati, Grobogan, Bojonegoro atau Tuban insyaallah beliau datangi semua.

Beliau juga rutin datang dan memberi mauidloh hasanah di Haul Mbah Buyut kami dari jalur ibu, yang dari beliau kami tahu silsilah Mbah Buyut tersbung ke Mbah Sambu Tuyuhan Rembang.

Bila jaman itu dai kondang di kampung-kampung adalah mereka yang berpidato dengan suara lantang dan berapi-api, atau lucu sekalian, Mbah Moen agak berbeda. Tutur kata beliau ketika sedang berpidato tidak beda jauh dengan ketika sedang berbicara dengan tamu-tamunya. Tidak berapi-api tapi dengan tone dan diksi yang tegas dan jelas. Pidatonya juga sesekali diselipin humor, tanpa harus mengorbankan substansi.

Pidato beliau selalu lembut, penuh substansi dan tidak pernah membakar sentimen negatif terhadap siapapun. Aku masih ingat, selepas dari sebuah pengajian sekitar awal 98 beliau mampir di rumah. Kemudian beliau tanya, “Cung, kowe ning Jogja opo melu demo mahasiswa?”

Selamat jalan guru panutan kami.

Alfatihah