Mati Selagi Hidup

oleh -106 views
Gambar: Janazah KH Maimun Zubair sewaktu digotong menuju pemakaman di Ma

Jakarta – Setiap orang adalah pelaksana dari prinsipnya sendiri. Itu artinya, pihak yang paling bertanggung jawab dari pikiran dan perkataan Anda adalah diri Anda sendiri, bukan orang lain. Pun dalam hal menyinta, bukan tugas orang lain untuk menghormati dan menyayangi Anda, tapi tugas Anda sendiri. Inilah prinsip yang selayaknya dipegang teguh setiap manusia.

Setiap manusia menjalani hidup berdasarkan filsafat hidupnya. Sederhananya, setiap orang berpikir, bertutur dan tentu saja berbuat berdasarkan pandangan hidup atau prinsip yang selama ini dianggapnya benar.

Demi alasan ini pula, kanjeng Nabi Saw mengajarkan untuk kita tidak gegabah dan menahan diri dalam segala situasi yang memeras hati memanggang ego, kendalinya adalah kesadaran, sadar bahwa ada hak orang lain pada setiap yang kita punya, sadar bahwa orang lain adalah kita, mereka yang kurang beruntung hidupnya adalah tanggung jawab kita.

Adalah dosa besar jika anak-anak kita belajar sampai sarjana sementara anak tetangga putus sekolah dan buta aksara, adalah mendustakan agama kalau anak-cucu kita sakit karena kebanyakan makan, sementara yatim-piatu dan anak-anak tetangga bergelimpangan sakit karena kurang makan, polio, stunting dan busung lapar. Adalah keliru kalau kita berprinsip bahwa, “toh nanti ada orang lain yang menolong, tidak harus saya.”

Sebenarnya tanpa disadari, setiap orang memang terus mencari makna hidupnya, jika tak kunjung mendapati, ia akan mengadopsi makna-makna yang telah ada pada orang tua, pada guru, juga pada orang lain, sebab kebaikan dan keburukan sama-sama membutuhkan keteladanan. Apakah selesai sampai di sini, Bro? Belum, kurang seru, bukan?
Setelah kita sampai pada level hidup yang berkualitas selagi masih hidup, masih tersisa sebilah tanya yang menusuk ke jantung kesadaran: bagaimana setelah mati? Nah!

Alfatehah utk Mbah Moen, beliau wafat ketika hendak tahajud dalam rangkaian ibadah haji. Sepanjang hidupnya dihabiskan untuk mendidik. Semoga kita mampu meneladani. (*)