Kolom

Kharisma Gus Dur & Mbah Moen Sarang

...
KH Maimun Zubair (Mbah Moen) dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Demak – Dawuh Maulana Habib Muhammad Luthfi, Indonesia dipagari oleh para para kekasih-kekasih Allah dari ujung barat sampai ujung timur, dari selatan sampai ke utara, baik auliya yang sudah wafat maupun masih hidup.

Rosulullah pernah mengabarkan bahwa sebaik-baik generasi adalah generasiku (Rasulullah), lalu setelahnya (masa Sahabat), lalu setelahnya lagi (Tabi’in), kemudian generasi setelahnya (Tabi’it tabi’in).

Meski demikian, Rasulullah pernah mengabarkan bahwa ‘ulama adalah pewaris para Nabi, dan ‘ulama-nya umatku adalah lebih baik dari pada cendekiawannya Bani Israel. Dengan itu maka sepeninggal al-Faqih Wal Muharrik, al-‘Alim KH. Maimun Zubair, kami sangat optimis bahwa di negeri ini masih banyak akar-akar yang kuat, pohon-pohon yang kokoh, dan tunas-tunas muda yang subur dan produktif yang dahan dan rantingnya mampu menembus kerajaan langit yang akan mengantarkan dan menjaga ekosistem bangsa ini menjadi bangsa yang teduh, aman, damai, terberkahi, dan diampuni oleh Tuhan.

Akar-akar yang kokoh itu adalah para auliya’nya bumi Indonesia yang sudah wafat. Pohon-pohon yang kuat itu adalah generasi ulama yang masih hidup yang berkharisma dan mengayomi umat. Tunas-tunas itu adalah tokoh tokoh muda yang tidak hanya cerdas intelektualnya, namun juga didukung kecerdasan spiritualnya, punya khazanah kekayaan batin, dzikire noto, shalawate akeh, ruku’ sujude kuat, punya kecerdasan rasa, punya kecerdasan emosional, ora ngamukan dan melayani umat dengan tulus. Sebab, sarana memimpin umat adalah dada yang lapang.

Satu hal yang penting untuk direnungkan, mengapa Gus Dur dan Mbah Maimun Zubair setelah wafatnya begitu memiliki kharisma yang kuat dan dimuliakan oleh Allah sedemikian rupa? Satu diantara jawabannya adalah karena beliau melayani umat dengan tulus.

Ya Ayyuhan Nasyiun, inna Fi Yadikum Amrol Ummah. Wahai pemuda, sungguh ditanganmulah urusan bangsa. Begitulah wanti-wanti Syeikh Musthofa Al Ghulayaini dalam ‘Idhohnya.

By Semar Badranaya