Hati-Hati dan Waspadalah dengan Trik Manusia Iblis

oleh -845 views
Hati-Hati dan Waspadalah dengan Trik Manusia Iblis
Gambar: Ilustrasi

Surabaya – Kericuhan dunia sosial politik disebabkan, salah satunya, oleh kecenderungan banyak orang menghumi sesuatu berdasarkan apa yang didengar dan dibacanya tanpa mengkonfirmasi kebenarannya dengan penglihatan (observasi) langsung. Padahal, faktanya kini, ada banyak tulisan dan kabar yang tidak menggambarkan keutuhan fakta. Banyak hal-hal kecil dibesar-besarkan sebagaimana banyak juga hal besar dikecil-kecilkan.

Mengapa ada orang yang sulit bersikap obyektif apa adanya, menyampaikan yang senyatanya? Jawabannya adalah karena mereka dimotivasi nafsu atau kepentingannya sendiri-sendiri. Untuk mewujudkan kepentingannya maka berita dipotong- potong dan disambung dengan atau dikait-kaitkan dengan berita lain yang sesungguhnya berbeda konteks. Rekaman videopun dipotong-potong dan diberi judul bombastis yang tidak sesuai dengan isinya. Orang-orang yang tidak memiliki tradisi riset dan berpikir kritis sangat banyak yang tertipu dan terprovokasi. Kericuhan terjadi dan menelan banyak korban.

Ada kelompok manusia yang senang melihat orang lain hancur dan terhina. Kesenangannya adalah mengadu domba orang lain, membenci dan menghasud karena iri hati dan dengki. Kemanapun manusia model ini pergi, keinginannya hanya satu: “orang lain harus dengan saya, harus mendukung saya. Kalau tidak, maka harus dihancurkan.” Gaya berpikir ini sangat mengikuti gaya berpikirnya iblis. Iblis itu sedih kalau ada yang lebih kaya dan mulia dari dirinya dan senang berbahagia di atas derita orang lain.

Apakah gaya iblis itu selalu kasar dan tampak jelas melawan logika hukum? O, tidak. Iblis itu cerdas dan paham target. Tidak selamanya iblis itu menggunakan cara-cara kasar? Tidak juga. Perhatikan gaya iblis yang memperdaya Nabi Adam dan istrinya untuk mendekat dan memakan buah-buahan terlarang. Al-Qur’an menjelaskan bahwa rayuan iblis itu halus tapi maut sekali: “Syaitan berkata: “Tuhan kamu tidak melarangmu dan mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua”, maka syaitan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya… (QS. al-A’raf: 20 – 22)

Manusia iblis mungkin saja halus cara merayunya, bersembunyi di balik nasehat yang tulus, namun tujuannya jelas merusak dan menghancurkan. Berhati-hatilah dan waspadalah. Untuk memperbaiki keadaan, jika mau, marilah mulai dari diri kita sendiri. Belajarlah untuk memperbaiki niat dan untuk bersikap obyektif. Sungguh ini lebih membahagiakan dan menyelamatkan. Salam, AIM

Penulis: Prof. Dr. Achmad Imam Mawardi (Dosen Pasca Sarjana UINSA Surabaya dan Pengasuh Pondok Pesantren Alif Laam Miim Surabaya)