Habib Ali Aljufri Ucapkan Selamat Natal pada 25 Desember 2019

oleh -4.834 views
Habib Ali Aljufri Ucapkan Selamat Natal pada 25 Desember 2019
Gambar: Editing oleh Idung Santri Al-Amiroh

Semarang – Tentang Ucapan Selamat Natal oleh Habib Ali Aljufri. Pada 4 Desember yang lalu di Semarang, Habib Ali Aljufri menyatakan bahwa dirinya pada 25 Desember mendatang akan mengucapkan selamat natal kepada saudara-saudara kristiani. Bagi beliau tak ada masalah mengucapkan kalimat sakral tersebut. Berikut cuplikan ceramah beliau dengan menggunakan bahasa arab yang kemudian diterjemahkan oleh Habib Ahmad bin Novel bin Jindan bin Salim.   

Petama, “memang sebagian besar ulama-ulama ahlussunnah waljamaah mengharamkan memberikan ucapan selamat natal kepada saudara kristiani. Apakah ucapan saya ini bertolak belakang dengan apa yang saya anut?, tidak masalah, dan saya akan mengucapkan selamat kepada mereka pada tanggal 25 Desember nanti”.

Kedua, beliau melanjutkan pidatonya, “yang menganggap hal ini tidak boleh, silahkan jangan menucapkan itu. Kita kembali lagi. Saya katakan sebagian besar dari mazahibil arba’ (mazhab yang empat) mengharamkan. Akan tetapi tidak benar apa yang dikatakan Ibnul Qoyyim, bahawa itu yang disepakati ulama. Bahkan dalam mazhab hambali dimana Ibnul Qoyyim bermazhab kepadanya, Imam Martawi menyebutkan, Imam Ahmad memiliki 3 pendapat soal ucapan selamat natal, petama membolehkan, kedua memakruhkan dan yang terakhir mengharamkan. Disini membuktikan bahwa ikhtilaf (perbedaan) dalam hukum ucapan selamat natal adalah muktabar (terbukti). Semoga Allah mengangkat, memberikan rahmat. Semakin tinggi ilmu seseorang semakin sedikit pengingkarannya terhadap masalah-masalah yang semacam itu, ” tutur beliau.

Ketiga, “Di sana ada kajian yang membahas tentang dalil-dalil yang mengharamkan. Untuk itu, saya minta kepada para pencari ilmu dari mazahibul arbaah untuk mengumpulkan dalil-dalil itu dari kitab-kitab kita, kitab ahlussunnah waljamaah bagaimana cara mengambil dalil dari para imam-imam kita. Kami ingin mendapatkan nash, yang dari nash ini mereka menyatakan haram mengucapkan selamat natal. Saya tidak berbicara tentang nash fiqh. Yang saya katakan dari nash maksum (alquran dan hadist) yang dari nash maksum itu didirikan hukum-hukum, tapi tidak saya dapati.  

Barang siapa yang memiliki nash maksum terkait dalil keharaman ucapan selamat natal, bawa kemari kami membutuhkan itu. Yang kami dapati di masa itu bahwasanya ucapan selamat itu mengandung suatu arti seakan-akan menyetujui i’tikad kekafiran itu. Ini adalah uruf atau pemahaman di masa itu. Di masa itu orang yang mengatakan selamat seakan merestui keyakinan kekafiran itu. Kita katakan haram, kalau ada orang yang mengatakan selamat natal dan mempercayainya. Kalau kita menyatakan selamat kepada mereka dan di hati kita menyetujui kekafiran maka itu adalah kufur. Karena aqidah kita berbeda dengan mereka. Kita tidak pernah menyatakan semua agama itu sama. Kalau ada yang bilang seperti itu, itu tidak benar.

Baca juga: Habib Ali Zain al – Abidin al Jifri

Tapi kalau kita lihat ini, apakah mengucapkan selamat itu artinya menyetujui kekayakinan itu? Saya beri contoh seorang muslim yang mengatakan kepada seorang kristian pada hari rayanya itu, “semoga engkau bertambah baik,” pada tanggal 25 Desember. Apakah itu mengandung keyakinan bahwa dia mempercayai keyakinan agama itu? Tidak. Bukankah demikian? Kita bilang seperti itu, kita doakan kita ucapkan selamat. Apakah kita percaya? Dan kejadian ini bukan hanya di Eropa dimana pun tempatnya. Uskup di Mesir datang di hari Maulid Nabi Muhammad tanggal 12 dan mengucapkan selamat kepada kita umat islam. Apakah artinya dia percaya kepada keyakinan kita? Apakah artinya uskup ini percaya dengan kenabian Nabi Muhammad SAW? Tidak.

Jadi ucapan selamat hari ini, artinya sudah tidak seperti apa yang ada di dalam pikiran kita. Ucapan selamat di masa kita itu bukan mengakui keyakinan mereka. Ucapan selamat di masa kita hanya sebagai bentuk kebajikan saja. Allah taala di dalam Alquran menyatakan bahwasanya tidak melarang kepada kita atas orang-orang kafir yang tidak memerangi, tidak mengusir kita dari kampung halaman untuk berbuat baik, untuk berbuat adil kepadanya.

Di dalam kitab fiqh syafii, ada perkara dimana seorang laki-laki muslim boleh menikah dengan wanita kitabiyah dengan aturannya. Di situ juga dijelaskan di dalam muktamad kitab fiqih syafii, bahwasanya seorang laki-laki yang menikah dengan wanita kitabiyah di antara hak seorang istri yang kitabiyah adalah mengantar istirnya ke gereja untuk ibadah. Kalau begitu, mana yang lebih parah anatara mengucapkan setiap tahun, “selamat natal wahai istriku” atau ngantar dia ke gereja? Atau si suami bilang, boleh kamu saya antar ke gereja tapi untuk ucapan selamat natal, tidak deh,” tutup beliau yang kemudian dapat tepuk tangan dari para jamaah yang hadir.                

Itulah sekelumit alasan mengapa Habib Ali Aljufri mau mengucapkan selamat natal kepada kaum kristiani. (Mus)