Cara Berhenti Menjadi Abu Jahal

oleh -131 views

Malang – Jika ada yang beragama dan lantas menyembah-nyembah agama dengan mempersetankan agama lain, maka ia sedang kesurupan Abu Jahal.

Bila ada yang hanya memiliki secuil dari cuilan-cuilan kecil ilmu tapi merasa tahu segala hal dan menjahannamkan setiap kebenaran di luar dirinya, maka ia sedang kerasukan Osama bin Laden.

Jika ada yang mengkultuskan satu tokoh sampai-sampai mencium pantat dan menjilat ketiaknya, maka ia sedang keranjingan Abu Lahab. Dan, apabila ada yang berpolitik dan menganggap partai politiknya yang paling suci dan pemegang kunci surga, serta mengkultuskan Capresnya layaknya Nabi dan Mesiah, sembari ternak hoaks dan sebar fitnah sejak di ubun-ubun sampai tujuh turunan, maka sekali lagi, ia sedang kerasukan Abu Jahal, Abu Lahab dan Osama bin Laden sekaligus. Saran terbaiknya, jauhi mereka sebelum Anda tertular!

Merekalah para penganut mazhab sotoyisme, yakni kaum cuti nalar dan tuna pustaka, bani otak cingkrang dan defisit ilmu, namun merasa paling benar sendiri di muka bumi. Ciri-ciri mereka? Ya, ciri-ciri orang kesurupan, gemar teriak-teriak di jalanan dengan pengeras suara pula, melotot dan meninju-ninju ke udara, menuding-nuding dan menunjuk-melonjak ke segala arah, sebentar-sebentar takbir disertai caci-umpatan.

Gerombolan kesurupan ini adalah pasukan nasi bungkus (panasbung), tapi justru menyebut diri mereka mujahid, pembela agama dan Nabi, padahal kue kekuasaan yang dicari. Para begundal berbaju Abu Jahal itu gemar bawa pentungan, bendera, teriak upil power, dan memang bakat terbesar mereka adalah razia dan sweeping, bukan menjadi ilmuwan dan negarawan. Oleh karena itu, gaya berpolitik para sobat gurun ini sangat tribalistik cum ultra jahiliyah.

Pertanyaan kampungan yang bisa kita sodorkan: apa muasal dari itu semua? Hanya satu, yakni berhenti belajar karena merasa paling benar. Konsekuensinya? Selain diri dan kelompoknya pasti salah dan auto-neraka. Padahal, mereka adalah buih di lautan politik agama, mereka adalah masyarakat daun kering yang gampang dibakar, setelah itu hangus dan menjadi abu politisasi agama lima tahunan.

Sayyid Aristoteles pernah memberi wejangan bahwa sejatinya setiap orang menghasrati pengetahuan. Tak ada yang mau bodoh dan apalagi dibodoh-bodohi oleh apa-siapapun, lebih-lebih di bulan Puasa. Itu artinya, dalam segala bidang, semua tindakan harus dilandasi ilmu, setiap perbuatan harus berasaskan pengetahuan, tanpa terkecuali dalam berpolitik, beragama, berbudaya dan bahkan bernegara. Semuanya harus dalam jagad akal sehat, di bawah arasy pengetahuan. Menolak fakta ini, berarti melecehkan anugerah istimewa dari Tuhan bernama akal.

Sehebat apapun yang Anda gagas dan Anda inginkan, tidak akan pernah mengalahkan yang Anda lakukan. Jangan lupa, tindakan adalah pikiran yang bergerak, bukan tergeletak dan lalu mengendap di almari ide-ide. Berpikir dan dan bertindak adalah satu kesatuan. Kesalahan kita adalah karena hanya bertindak tanpa berpikir dan sebaiknya cuma berpikir tanpa pernah bertindak.

Memang, bukan belajar yang sulit, tetapi memutuskan untuk belajar. Begitu pula bekerja, menikah, melayani sesama, merajut kebhinnekaan, menghargai yang berbeda, memuliakan yang lain dan liyan, yang sulit adalah mengambil keputusan!

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi pengetahuan, seharusnya umatnya pun demikian. Tak pantas, kaum muslimin menjadi masyarakat yang tidak ilmiah dan terbelakang dalam saintek. Celakanya, tak sedikit yang membeda-bedakan ini ilmu agama itu ilmu umum, ini ilmu Islam itu ilmu kafir, ini politik Islam itu sistem thaghut. Mari kita sudahi kesalahkaprahan warisan Kompeni dan bikinan Zionis ini dengan membuka hati, merentangkan pikiran dan terus belajar!

Jadi, tidak ada demarkasi antara ilmu umum dan agama, karena semua wajib dipelajari. Bahkan, jika agama-agama kita anggap ilmu, dan memang seharusnya demikian, maka semua agama wajib kita pelajari, bukan malah kejang-kejang melihat salib, pingsan melihat patung dan alergi kemenyan kearifan lokal.

Apabila Anda haji tiap bulan, umroh tiap minggu, salat malam hingga kepala bertanduk dan jidat berwarna biru, pakai gamis polkadot rangkap lima, serban melilit sebesar parabola, plus jenggot impor lima helai sampai lutut, tapi Anda melakukan itu semua tanpa ilmu, salah aturan pakai, sia-sialah yang hebat-hebat itu tanpa ilmu. Bisa-bisa, Anda malah kerasukan Abu Jahal dan kesurupan Osama bin Laden. Anehnya, kaum monaslimin-monaslimat lantas dengan jumawa pamer kebodohan dan pongah memviralkan kebebalan justru di bulan suci Ramadan, bulan yang non muslim saja sangat menghormati.

Kita renung-insyafi sekali lagi, semua prasyarat sebelum ibadah, juga muamalat adalah wajib aqil-baligh. Apa itu?

Begitu pula kebodohan, di bawah orang bodoh, banyak yang lebih bebal dan jahil murakkab. Maka, jangan heran jika banyak orang-orang bodoh diikuti oleh lebih banyak lagi orang-orang dungu, yang kerjanya hanya menjelek-jelekkan Pemerintah, ingin menggorok leher Presiden, mengadu-domba umat dengan main ulama-ulamaan dan presiden-presidenan.

Alangkah bajik dan bijaknya jika energi dan ghirah sehebat itu digunakan untuk belajar dan membangun bangsa, merekat kerukunan dan kebhinnekaan.

Well, sobat gurun yang lucu dan cupu, begitu kita berhenti belajar, mulailah kita bodoh. Ia bisa menyelinap dalam ego dan nafsu, menyusup dalam keakuan yang serba sok tahu, serta menuding siapapun selain dirinya keliru.

By Ach Dhofir Zuhry