Bijaklah dalam Menghadapi Wabah Virus Corona

oleh -2.344 views
Bijaklah dalam Menghadapi Wabah Virus Corona

Jakarta – Merebaknya wabah virus Corona telah menyita perhatian dunia, termasuk masyarakat Indonesia. Banyaknya korban yang terserang virus ini dalam waktu singkat menjadikan masyarakat panik, sehingga menimbulkan respon beragam di kalangan masyarakat. Berbagai upaya dilakukan untuk meminimalisir korban akibat peyebaran virus Corona, mulai himbauan tidak menyelenggarakan kegiatan yang menghadirkan massa dalam jumlah besar, penutupan tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya kontak fisik yang bisa menularkan penyakit, sampai pada penghentian kegiatan belajar mengajar di kampus dan sekolah.

Munculnya wabah penyakit menular (virus) merupakan gejala alam yang terjadi sudah sejak lama. Dalam catatan sejarah Islam peristiwa menyebarnya penyakit menular ini sudah terjadi sejak zaman Nabi, yang dikenal dengan wabah Tha’un. Selain terjadi pada zaman, dalam kitab karya Ibnu Jarir disebutkan wabah penyakit Tha’un ini juga terjadi pada era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khatab pada tahun 17 Hijriah. Pada saat itu wabah Tha’un muncul dari daerah Amawas, kemudian menyebar ke seluruh Negeri Syam.

Wabah penyakit merupakan fenomena alam, oleh karena itu Nabi meresponnya dengan pendekatan hukum alam. Meski Nabi Muhammad adalah seorang Nabi yang memiliki mukjizat dan doanya didengar Allah, namun beliau tidak menggunakan cara-cara spiritual untuk mengatasi masalah wabah penyakit. Sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadits yang disampaikan oleh Usamah bin Zaid bahwa Nabi Muhammad bersabda: “….Kalau kalian mendengar ada wabah thaun di suatu negeri, janganlah kalian memasuki negeri tersebut. Namun, bila wabah thaun itu menyebar di negeri kalian, janganlah kalian keluar dari negeri kalian menghindar dari penyakit itu,” (HR Bukhari-Muslim). Dalam hadits yang lain Nabi bersabda: “Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninginggalkan tempat itu,” (HR al-Bukhari)

Sebagai muslim yang beriman, sudah selayaknya meyakini bahwa semua penyakit berasal dari Allah dan terjadi atas kehendak-Nya. Namun demikian hal ini bukan berarti manusia tidak diwajibkan untuk menghindar dari wabah penyakit melalui ikhtiar yang sesuai dengan mekanisme hukum alam. Sikap berserah diri tanpa melakukan upaya apapun untuk mencegah dan menghindar dari serangan wabah penyakit merupakan tindakan yang bertentangan dengan syariat Islam. Menurut Ibn Qayyim al-Jauzi masuk ke daerah yang terserang wabah penyakit sama saja dengan menyerahkan diri kepada penyakit, menyongsong penyakit di istananya sendiri, dan berarti juga menolong membinasakan diri sendiri. Itu bertentangan dengan ajaran syariat dan disiplin logika.

Jelas di sini terlihat, sikap bijak seorang muslim menghadapi penyebaran wabah penyakit adalah menerapkan kaidah dan ketentuan kesehatan sebagaimana yang berlaku pada hukum alam dan melaksanakn prosedur dan standar kesehatan yang sudah ditetapkan oleh para ahli yang memiliki otoritas, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi. Setelah itu baru berdoa dan tawakal kepada Allah.

Sikap bijak selanjutnya adalah tidak mengumbar pernyataan atau membuat analisa yang bisa memperkeruh suasana dan bisa menyinggung perasaan sesama. Sebagaimana yang dinyatakan oleh beberapa ustadz bahwa wabah virus Corona hanya menyerang orang-orang ahli maksiat, sebagai hukuman terhadap orang-orang yang tidak taat menjalankan syariah. Selain bisa memancing keresahan dan perpecahan umat, pernyataan ini juga bisa menyinggung perasaan keluarga atau orang-orang yang sedang menderita terserang wabah Corona.

Pernyataan seperti ini mungkin ada benarnya, sebagai upaya menyadarkan umat agar menjalankan ajaran Islam secara serius. Namun menjadi tidak tepat jika diucapkan ketika masyarakat sedang dilanda kepanikan menghadapi serangan wabah penyakit. Lebih-lebih jika dihadapkan pada fakta sejarah, dan realitas yang ada. Sebagai fenomena alam, wabah penyakit bisa menyerang siapa saja termasuk umat muslim yang saleh.

Dalam catatan sejaran Islam, wabah Tha’un yang oleh Nabi disebut sebagai kotoran yang dikirimkan oleh Allah terhadap sebagian kalangan bani Israil dan orang-orang sebelumnya juga pernah menyerang para para sahabat Nabi, orang- orang saleh yang sudah pasti menjalankan Syariah secara konsisten. Para sahabat Nabi yang terkena wabah penyakit menular Tha’un di antaranya adalah Abu Ubaidah bin Jarrah, al-Harits bin Hisyam, Syarahbil bin Hasanah, Fadhl bin Abbas, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan dan Abu Jandal bin Suhail. Bahkan dalam catata Al-Waqiidi, ada sekitar 25.000 sampai 30.000 korban jiwa saat wabah ini menyerang negeri Syam. Di antara mereka hampir dipastikan adalah kaum muslimin yang taat.

Memang tidak salah mengasumsikan wabah penyakit merupakan teguran atau hukuman Allah kepada manusia. Tatapi menggeneralisir korban sebagai orang yang ahli maksiat dan taat menjalankan syariat merupakan tindakan yang tidak bijak. Selain itu, pernyataan seperti itu juga bertentangan dengan hadits nabi yang diriwayatkan dari Hafshah binti Sirin yang menyatakan Anas bin Malik berkata, “Rasulullah bersabda: Orang yang mati karena wabah thaun adalah mati syahid.”

Dari berbagai data sejarah pernyataan Nabi di atas jelas menunjukkan bahwa sikap bijak menghadapi wabah penyakit menular adalah menjalani semua prosedur dan kaidah kesehatan seperti karantina, sebagaimana yang disarankan Nabi, menjaga pola hidup bersih dan sehat. Setelah itu baru berupaya secara spiritual, yaitu berdoa dan memohon kepada Allah agar terhindar dari wabah penyakit.

Sikap bijak selanjutnya adalah tidak menggunakan legitimasi agama untuk memperkeruh suasana dan menambah kepanikan masyarakat dengan berbagai tudingan negatif terhadap para korban. Akan lebih baik jika musibah penyebaran wabah Corona ini dijadikan sebagai momentum muhasabah (intropeksi diri) kesempatan untuk memperkuat solidaritas terhadap sesama. Melalui sikap yang bijak penyebaran virus Corona akan dapat ditanggulangi secara baik dan jumlah para korban akan dapat ditekan. Insya Allah. (*)

Penulis:

Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Arts Cetre UI Jakarta

Tulisan ini sudah terbit di media watyutinkcom dengan judul “Bijak Menghadapi Wabah Penyakit”