Akibat Covid 19, Kiai Jombang Jual Mobil Demi Menambah Nutrisi Santri

oleh -1.548 views

Jombang – Sejumlah pesantren harus mempersiapkan segala piranti saat hendak menerima kembali santri usai libur panjang karena Corona. Diskusi secara maraton dilakukan agar kehadiran santri tidak menimbulkan masalah baru, yakni klaster Covid-19.

“Karena itu pimpinan pesantren dan sejumlah pengurus harus menggelar rapat berkali-kali dengan berbagai kalangan demi memastikan hal ini,” kata H Azam Khoiruman kepada media beberapa waktu berselang.

Juru bicara penanganan Covid-19 di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang ini menjelaskan bahwa menerima kembali santri sebenarnya dilema bagi pesantren.

“Kalau di Pesantren Tambakberas ini karena memang desakan dari orang tua santri yang belum bisa adaptasi dengan pembelajaran dalam jaringan atau Daring,” ungkap Gus Heru, sapaan akrabnya.

Namun demikian, bagi santri yang tidak berkenan kembali, atau orang tua merasa ragu, juga tidak dilarang. Diberikan kebebasan apakah mau kembali atau tidak, jadi bukan merupakan paksaan.

“Kembalinya santri bersifat opsional, jadi bisa memilih,” tegasnya.

Hanya saja, ketika santri sudah di pesantren, maka protokol kesehatan harus diterapkan. Dari sejak akan kembali sampai saat sampai di pesantren, hingga akhirnya beraktivitas kembali sebagaimana layaknya santri kebanyakan.

Agar santri imun terhadap ancaman Corona, sejumlah terobosan dilakukan pesantren. Salah satunya dengan menambah nutrisi.

“Terkait hal ini sejumlah pesantren menghadapi dilema,” terang Gus Heru. Di satu sisi menambah nutrisi, pada saat yang sama tidak mungkin menaikkan syahriah lantaran pendapatan orang tua santri sedang terdampak pandemi. Belum lagi santri yang terlambat membayar iuran bulanan, lanjutnya.

Lantas bagaimana jalan tengah yang bisa diambil? “Menjual aset,” sergahnya.

Gus Heru kemudian bercerita kenalannya yakni gus yang memiliki santri lumayan banyak akhirnya harus menjual mobil dan barang berharga lainnya untuk tambahan nutrisi santri.

“Yang bersangkutan adalah muballigh kondang dengan jadwal yang demikian padat,” terangnya. Dan imbas Corona, akhirnya harus menggagalkan ratusan jadwal memberikan mauidlah hasanah hingga luar Jawa.

Saat santri kembali dengan kondisi yang serba dilematis tersebut memaksanya untuk menjual sejumlah barang berharga. “Semangatnya jangan sampai membebani santri dan orang tua mereka,” kata Gus Heru menirukan cerita sang gus.

Gus Heru juga menjelaskan, tidak ada yang bisa diharapkan dari pemerintah terkait bantuan selama pandemi menimpa. Memang beberapa digelar seminar secara online, namun tidak menghasilkan apa-apa selain sebatas curahat hati.

“Di sinilah kiprah pesantren yang memberikan jawaban kepada umat saat mereka layak dibantu. Tak harus berkeluh kesah kepada siapa pun karena memang hal itu percuma. Segalanya kita hadapi dengan mandiri,” pungkasnya. (News)