59 Warga Jatim Jadi Korban Penipuan Percepatan Naik Haji

oleh -981 views
Gambar: Ilustrasi

Surabaya – Puluhan warga Jawa Timur mengaku korban penipuan percepatan naik haji. Mereka mendatangi Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jatim, Surabaya, Senin (6/8) malam. Ada setidaknya 59 orang orang yang datang ke Polda Jatim guna melaporkan oknum berinisial M yang terduga sudah menipu mereka.

Mistani salah seorang korban asal Pasuruan mengaku jadi korban penipuan tersebut beserta puluhan calon jamaah haji lainnya. Menurut cerita perempuan 47 tahun tersebut, semua korban dijanjikan segera naik haji oleh oknum berinisial M asalkan membayar sejumlah uang.

“Pokoknya nanti berangkat menggunakan kursi jatah menteri, tanpa diberi tahu masuk kloter berapa, jug tidak ada paspornya, tidak ada visanya, dan sampai sekarang tidak berangkat,” ujar Misnati, dikutip dari republika, Selasa (06/08/19) dini hari.

Misnati juga mengungkapkan, ada puluhan orang yang tertipu, bahkan bukan hanya berasal dari Pasuruan. Ada beberapa dari mereka adalah warga Sidoarjo, Pamekasan, Sampang, hingga Kalimantan.

Muhammad Fauzi yang merupakan korban lainnya, juga menceritakan hal yang sama. Fauzi mengatakan, oknum terseut meminta dirinya berkumpul di suatu tempat dan kemudian ada penjemputan oleh oknum berinisial M menggunakan bis yang kemudian dibawa ke asrama haji.
Namun sesampainya di asrama haji Embarkasi Surabaya, mereka tidak bisa masuk dan hanya berputar-putar.

Uang yang dipungut dari setiap korban jumlahnya berbeda-beda. Fauzi mengaku dirinya diminta uang sebesar Rp 5 juta. Namun dia menyatakan akan membayar uang tersebut setelah sampai di Tanah Suci dengan cara ditransfer.

“Untungnya saya belum bayar karena saya bilang nanti ditransfer sesampainya di Makkah. Kalau jadi berangkat saya bayar, kalau tidak saya tidak mau bayar,” kata Fauzi.

Kapolsek Sukolilo Surabaya Kompol Bunari menyatakan kejadian ini bermula dari adanya pengantaran calon jamaah haji ke asrama haji Embarkasi Surabaya. Calon jamaah haji yang jumlahnya 59 orang tersebut tidak ada di daftar pelunasan. Mereka tidak bisa masuk ke asrama lantaran nama-namanya tidak ada di daftar.

“Setelah kita interogasi, ternyata dari banyak daerah. Ada dari Pamekasan, Sumenep, Pasuruan, dan juga daerah lain. Sehingga saya antar ke Polda Jatim untuk membuat laporan polisi,” ujar Bunari.

Bunari mengungkapkan semua korban tersebut sebenarnya sudah membayar kursi dan masuk daftar tunggu dengan bayaran Rp 25 juta. “Akan tetapi dijanjikan percepatan dengan membayar antara Rp 2 juta sampai Rp 25 juta per orang, jadi bervariasi. Ada yang menarik si A, tapi di atas si A itu ada yang menarik lagi. Kurang lebih penipuan seperti itu,” ujar Bunari. (Lika/SA)